studiku

Daya Adaptasi (The Adaptation power)

In Artikel on September 7, 2008 at 3:51 am

studiku

Perubahan berjalan semakin cepat dan akan melibas apa saja seperti logos menggantikan mitos dan secara tegas menelanjangi tabir mitologi. Pada era itu timbul reaksi para penganut status quo sontak menyebut sebagai era “the death of god” (“crisis of theology”).

 

Perubahan yang begitu cepat ini menyebabkan “culture shock” bagi orang yang sulit berkompromi dan melakukan tawar menawar dengan modernitas. Dalam situasi ini tidak heran kemudian muncul satu dua gerakan dari kalangan status quo yang gerah dengan mencoba formula reform mitologi gaya baru yaitu neo-ortodok agar lebih harmonis dengan perkembangan kekinian.

 

Munculnya neo-ortodok membuat peta friksi menjadi tiga kubu yaitu logos, mitos, dan ditambah dengan neo-mitos. Namun hampir tidak ada satu celah pun bagi penganut neo-ortodok bagi kaum ortodok, senjata paling ampuh adalah dalil kebenaran dan kesucian.

 

Tidak selamanya mitos itu jelek, namun ketika diimplementasikan pada konteks riil dan teknis akan berubah menjadi proses pemistikan. Ini menjadi ujian sejauhmana daya adaptasi suatu ajaran dapat menyesuaikan diri pada perkembangan jaman, karena tidak akan mungkin perkembangan jaman yang menyesuaikan dengan suatu ajaran, sama halnya dengan nasib peradaban mesir, yunani, samawi, dan telah digantikan dengan jaman posmo digital sekarang ini.

 

Dua poin penting yaitu: Pertama, jalin kompromi, mitos menjadi inspirasi makna hidup dan logos menjadi peroblem solving teknis dan praktis. Kedua, bongkar gaya hipokrit paradigma kebenaran, karena hanya ingin merasa benar menjadi penyebab tragedi berdarah. Terlalu naif jika tidak mengakui bahwa merasa paling benar sejatinya proses ”displacemant” dari mitof berkuasa yang serakah dan egois. Tidak perlu malu merubah paradigma kebenaran menjadi paradigma kebajikan.

studiku

%d blogger menyukai ini: