studiku

Maju itu ke Depan (Go up that in the future)

In Artikel on Agustus 29, 2008 at 3:19 am

studiku

Ali Khomsan MS dan Tim Ahli Anak dari Ko­misi Perlindungan Anak Indonesia Tb. Rachmat Sentika memberi data sebanyak 4 juta anak Indonesia penderita kurang gizi terancam merosot kondisinya ke gizi buruk jika tidak segera ditangani. Namun pemerintah hanya mampu menangani 39.000 anak gizi buruk per tahun. Di Nusa Tenggara Timur, selama Januari-Juni 2008, sebanyak 23 anak balita gizi buruk meninggal. Ternyata untuk urusan makan pun kita tidak mampu.

 

Ungkapan Budiarto Shambazy mengelitik, bahwa serangga Undur-undur memang makhluk yang lucu karena berjalan tidak ke depan tetapi atret. Namun bangsa yang berjalan mundur sama sekali tidak lucu, tidak sedikit yang nostalgia dan tergoda ingin kembali ke zaman Orde Baru yang konon lebih sejahtera.

 

Di masa itu terasa sandang murah, pangan murah, BBM murah, dan sebagainya. Sudah tentu murah karena disubsidi. Namun uang subsidi diperoleh dari hasil utang, sementara uang hasil pajak dan eksploitasi kekayaan alam masuk kantong pribadi. Sekarang tiba waktu untuk melunasi utang sedangkan kekayaan alam negeri sudah terkuras habis dan diangkut ke mancanegara. Inilah disebut sebagai kesejahteraan palsu, hidup berkecukupan tapi uang hasil utang.

 

Apa yang dirasakan sekarang, berdasar­kan logika kausalitas, tak le­bih dari sekadar akibat. Ibarat di padang pasir yang teramat dahaga, dikepung fatamorgana yang selalu menipu akal sehat, hati nurani, telinga yang berpekerti, serta mata yang tidak cermat. Jika begini, reformasi dan demokrasi menjadi satu-sa­tunya alternatif yang tersedia. Bangsa yang berjalan mundur mempraktikkan talking demo­cracy, bukan working democracy. Bangsa yang berjalan maju se­lalu mencari jati diri dan menatap ke depan mengisi kemerdekaan sesuai dengan cita-cita Proklamasi 1945. Ternyata untuk berjalan maju itu sulit. Pilih berfikir maju atau berfikir mundur.

 

studiku

Kompas, Selasa 12 Agustus 2008.

  1. […] Maju itu ke Depan (Go up that in the future) […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: