studiku

Klaim Sejarah (The History claim)

In Artikel on Agustus 29, 2008 at 3:17 am

studiku

”Sejarah ditulis oleh yang menang”, demikian kalimat ini disusun. Seorang sejarawan menyatakan bahwa para penguasa selalu berusaha menguasai tafsir sejarah guna melegitimasi kekuasaan, seperti dilakukan Ken Arok ketika mendirikan Singasari dan membuat silsilah yang menerangkan bahwa dia keturunan Raja-raja Mataram. Dalam konteks ini, sejarah memainkan peranannya sebagai sarana propaganda dan melupakan mission sacre-nya sebagai sebuah ilmu objektif yang mengungkap kebenaran.

 

Pada masa Orde Baru, senantiasa menjadikan bulan maret sebagai bulan propaganda, ada dua peristiwa yang menoreh catatan sejarah bagi figur Soeharto, Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Supersemar (Surat Perintah 11 Maret) 1966. Dua momentum historis yang selalu mendapat perhatian khusus Regim tersebut untuk memitoskan dan memberi kesan diri sebagai The Living Legend hingga terbentuk memori kolektif suatu bangsa, dan bahkan mampu menjadikan figur seorang sebagai siapa pahlawan dan siapa pengkhianat.

 

Selama Orde Baru berkuasa, Soeharto dan pemerintahannya mengklaim sebagai penggagas atau yang berinisiatif atas peristiwa enam jam di Yogyakarta dan meminggirkan peran Sri Sultan HB IX. Klaim tak hanya melalui buku-buku sejarah yang dipergunakan jutaan generasi bangsa ini, juga melalui film dengan adegan pertemuan Soeharto dengan Sri Sultan HB IX yang terpangkas.

 

Beberapa bukti menyatakan bahwa Sri Sultan HB IX mengirim surat ke Panglima Besar Jenderal Sudirman yang isinya minta izin untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap Belanda. Surat ini dibuat setelah pada awal Februari mendengarkan radio bahwa PBB akan membicarakan Indonesia.

 

Pada tahun 1973, saat meresmikan Monumen SU 1 Maret di Yogyakarta, Sri Sultan IX menyampaikannya sepatah kata, ”Kami berdua memutuskan melakukan serangan 1 Maret, supaya Pak Harto yang bertanggungjawab serangannya, saya menanggung risikonya di dalam kota”.

 

Ketika 16 tahun kemudian, yaitu 1989, Soeharto menerbitkan buku “Soeharto: Ucapan dan Tindakan Saya”, yang mengejutkan, dalam buku itu, Soeharto menulis bahwa sebelum 1 Maret dia belum pernah bertemu Sri Sultan. Bagaimana sejarah bisa lurus, jika dua penyataan dari dua saksi berbeda? Histori bangsa dijadikan bola pingpong.

 

Mungkin, bukan sesuatu yang penting siapa yang mengambil prakarsa serangan I Maret tersebut, namun yang terpenting adalah sejarah atas peristiwa tetap harus diluruskan. Kemudian yang lebih penting lagi bagi kaum muda yaitu dapat mengambil hikmah dan mempertajam daya kritis bahwa sejarah selalu menjadi bagian penting alat legitimasi kekuasaan, sehingga belum tentu “Si Pahlawan” adalah pahlawan dan “Si Penghianat” adalah penghianat.

  1. […] Klaim Sejarah (The History claim) […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: