studiku

Sekilas tentang Filsafat Manusia (Human philosophy)

In Artikel on September 18, 2008 at 3:49 pm

studiku

PENGETAHUAN adalah hasil kegiatan ingin tahu manusia tentang apa saja melalui cara-cara dan de­ngan alat-alat tertentu. Pengetahuan ini bermacam-macam jenis dan sifatnya, ada yang langsung dan ada yang tak langsung; ada yang bersifat tidak tetap (berubah-ubah), subyektif, dan khusus, serta ada pula yang bersifat tetap, obyektif dan umum. Jenis dan sifat pengetahuan ini tergantung kepada sumbernya dan dengan cara dan alat apa pengetahuan itu diperoleh. Kemudian, ada pengetahuan yang benar dan ada pe­ngetahuan yang salah.

 

Kemauan (will) merupakan salah satu unsur kekuatan kejiwaan manusia yang merupakan bagian inte­gral dari tri-potensi kejiwaan: cipta/akal (rationale), rasa (emotion), dan karsa/kemauan/keinginan (will), ketiganya berada dalam satu kesatuan yang utuh dan bekerja saling melengkapi. Potensi karsa inilah yang menjadi dorongan rasa ingin tahu itu muncul dan berkembang.

FILSAFAT ATHENA

PERIODE filsafat Yunani merupakan periode penting sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia dari myth menjadi yang sedikit lebih rasional. Perubahan pola pikir tersebut kelihatan sederhana, tetapi implikasinya tidak sederhana karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi kemudian didekati bahkan dieksploitasi. Dulunya pasif dalam menghadapi fenomena alam menjadi lebih proaktif dan kreatif. Dari proses ini filsafat menjadi rahim ilmu dan dinikmati dalam bentuk teknologi. Maka periode filsafat Yunani merupakan poin dalam memasuki peradaban baru manusia.

 

Di era Yunani Kuno ini dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, yaitu masa kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide, dan bangsa Yunani seolah gudangnya ilmu dan filsafat. Prothagoras menyatakan bahwa manusia adalah ukuran untuk segala-galanya. Hal ini ditentang oleh Socrates (469-399 SM) dengan mengatakan bahwa yang benar dan yang baik harus dipandang sebagai nilai-­nilai objektif yang dijunjung tinggi oleh semua orang. Hasil pemikiran Socrates dapat dijumpai pada muridnya yaitu Plato.

 

Filsafat Plato mengatakan: realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia yang hanya terbuka bagi pancaindra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio. Dunia yang pertama adalah dunia jasmani dan yang kedua dunia ide, sehingga adanya dualisme manusia yaitu wilayah fisik (panca indera) dan wilayah ide. Benda yang ditangkap panca indera hanya dapat mempunyai pengetahuan yang tepat dan tidak tepat (tidak sempurna) diukur dengan lima indera. Dunia indera selalu berubah-ubah sesuai dengan kondisi yang diserap lima indera. Wilayah yang lain adalah “dunia ide” yang mempunyai ilmu pengetahuan yang bersifat abadi dan kekal. Demikianlah Plato menguraikan.

 

Pendapat tersebut dikritik Aristoteles dengan mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang konkret dan “Ide manusia” tidak terdapat dalam kenyataan. Aristoteles adalah filsuf realis, yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yaitu mengenai abstraksi, suatu cara atau aktivitas rasional yang dilakukan manusia dalam memperoleh pengetahuan. Menurut Aristo­teles ada tiga macam abstraksi, yakni abstraksi fisis, abstraksi matematis, dan metafisis. Abstraksi fisis adalah menangkap pengertian dengan membuang unsur-unsur individual (subjektif) untuk mencapai kualitas. Abstraksi matematis adalah menangkap unsur kuantitatif dengan menyingkirkan unsur kualitatif. Kemudian abstraksi metafisis adalah menangkap unsur-unsur yang hakiki dengan mengesampingkan unsur-unsur yang lain sehingga memperoleh intisari. Teori Aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang materi dan bentuk, keduanya merupakan prinsip-prinsip metafisis. Materi adalah prinsip yang tidak ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal dengan sebutan Hylemorfisyme.

 

Hippocrates (460-370 SM) membahas manusia dari titik tolak konstitusional, terpengaruh kosmologi Empedokles, bahwa alam semesta beserta isinya tersusun dari empat unsur dasar yaitu: tanah, air, udara, dan api. Dengan sifat-sifat yang didukungnya yaitu: kering, basah, dingin, dan panas, maka Hippocrates berpendapat bahwa dalam diri manusia terdapat empat macam sifat tersebut yang didukung oleh keadaan konsti­tusional yaitu berupa cairan-cairan yang ada dalam tubuh manusia, yaitu:

1. Sifat kering terdapat dalam chole (empedu kuning),

2. Sifat basah terdapat dalam melanchole (empedu hitam),

3. Sifat dingin terdapat dalam phlegma (lendir),

4. Sifat panas terdapat dalam sanguis (darah).

 

Keempat cairan tersebut memiliki proporsi tertentu pada setiap manusia. Apabila cairan-cairan dalam proporsi selaras (normal) maka orangtersebut normal (sehat), apabila keselarasan propor­si tersebut terganggu maka orangnya menyimpang dari keadaan normal (sakit).

 

Galenus menyempurnakan ajaran Hipocrates dengan membeda-bedakan kepribadian manusia atas dasar keadaan proporsi campuran cairan-cairan ter­sebut. Jika salah satu cairan melebihi proporsi yang seharusnya (jadi dominant) maka akan mengakibatkan adanya sifat-sifat kejiwaan yang khas, atau dengan kata lain sifat-sifat kejiwaan yang khas ada pada seseorang merupakan akibat dari dominant-nya salah satu cairan ini. Galenus menyebutnya dengan temperament. Jadi, Galenus menggolongkan manusia menjadi empat tipe temperament dominasi salah satu cairan badaniahnnya.

 

Pengaruh ajaran Hipocrates yang kemudian di sempur­nakan Galenus ini, tahan uji sampai berapa ­abad, pendapatnya lama sekali diikuti oleh para ahli, hanya dengan variasi yang berbeda-beda. Bahkan sampai dewasa ini pun pengaruh itu masih sangat terasa dan menjadi dasar berpijaknya ilmu kedokteran.

ZAMAN HELINISTIS dan ROMAWI

PADA zaman Alexander Agung (359-323 SM) sebagai kaisar Romawi dari Macedonia, bidang kefilsafatan tetap berkembang, namun pada saat itu tidak ada filsuf yang sungguh-sungguh besar kecuali Plotinus. Pada masa ini muncul beberapa aliran filsafat sebagai berikut:

  • Sinisme. Menurut paham ini jagat raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut Logos. Oleh karena itu, segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat dihindari. Aliran Sinisme merupakan pengembangan dari aliran Stoik.
  • Stoik. Menyatakan penyangkalannya adanya “Ruh” dan “Materi” aliran ini disebut juga dengan Monoisme dan menolak pandangan Aristoteles dengan “Dualismenya”.
  • Epikurime. Segala-galanya terdiri atas atom-atom yang senantiasa bergerak. Manusia akan bahagia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut pada dewa-dewa. Setiap tindakan harus dipikirkan akan akibatnya. Aliran ini diibaratkan sebagai pengembangan dari teori atom Democritus sebagai obat mujarab untuk menghilangkan rasa takut pada takhayul.
  • Neo Platonisme. Paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat Plato. Tokohnya adalah Plotinus. Seluruh filsafatnya berkisar pada Tuhan sebagai yang satu. Segala sesuatu berasal dari yang satu dan ingin kembali kepadanya.

ZAMAN ABAD PERTENGAHAN

ZAMAN Abad Pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancilla theologia atau abdi agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan dalam bidang ilmu yang terjadi pada masa ini.

 

Periode Abad Pertengahan mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya, terutama terletak pada dominasi agama. Timbul­nya ajaran Kristen pada permulaan Abad Masehi membawa perubahan besar terhadap pola pandang. Pada zaman ini kebesaran kekaisaran Romawi runtuh, begitu pula dengan peradaban logika ilmiah, ditutup oleh gereja dan diganti dengan logika keagamaan. Agama Kristen menjadi problema kefilsafatan pada saat itu karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan Yunani Kuno yang mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu. Pada zaman itu akademia Plato di Athena ditutup meskipun ajaran-ajaran Aristoteles tetap dapat dikenal. Para filosof nyaris begitu saja menyatakan bahwa Agama Kristen adalah benar.

 

Berdasarkan kondisi ini, maka berkembang pola oikir di Yunani menjadi dua belah:

  • Golongan yang menolak sama sekali pemikiran Yunani, karena pemikiran Yunani merupakan pemikiran orang kafir, karena tidak mengakui wahyu.
  • Menerima filsafat Yunani yang mengatakan bahwa karena manusia itu ciptaan Tuhan, kebijaksanaan manusia berarti pula kebijaksanaan yang datangnya dari Tuhan. Mungkin akal tidak dapat mencapai kebenaran yang sejati maka akal dapat dibantu oleh wahyu.

Secara garis besar, filsafat pada zaman Abad Pertengahan mengalami dua periode:

Periode Patristik

Patristik (patres) yang berarti bapa-bapa Gereja, ialah ahli-ahli agama Kristen pada abad permulaan agama Kristen. Periode ini mengalami dua tahap:

  • Permulaan agama Kristen. Setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat Yunani, maka agama Kristen memantapkan diri. Keluar memperkuat gereja dan ke dalam menetapkan dogma­-dogma.
  • Filsafat Agustinus, merupakan filosof yang melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan.

Periode Skolastik

Periode skolastik berlangsung dari tahun 800-1500 M. Periode ini dibagi menjadi tiga tahap:

  • Skolastik awal (abad ke-9-12). Ditandai oleh pembentukan rnetode-metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Membahas persoalan tentang Universalia.
  • Puncak skolastik (abad ke-13). Ditandai oleh pengaruhi Aristoteles akibat kedatangan filsafat Arab dan Yahudi. Puncak perkembangan pada Thomas Aquinas.
  • Skolastik akhir (abad ke-14-15). Ditandai dengan pemikiran kefilsafatan yang berkembang ke arah nominalisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak memberi petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal. Pengertian umum hanya momen yang tidak mempunyai nilai-nilai kebenaran yang objektif.

ZAMAN MODERN

ZAMAN modern ditandai oleh Charles Darwin (1849-1883) yang dikenal sebagai penganut teori evolusi fanatik dengan teorinya “struggle for life” (perjuangan untuk hidup). Perjuangan untuk hidup berlaku pada setiap kumpulan makhluk hidup yang sejenis, karena meskipun sejenis namun tetap menampilkan kelainan-kelainan kecil yang disebabkan oleh kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Oleh karena itu yang dapat bertahan adalah yang paling unggul (survival of the fittest). Darwin membuktikan pendapat Herakleitos (535-475 SM) bahwa, realitas merupakan gerakan, peru­bahan, dan keadaan yang serba menjadi, semuanya serba mengalir “pantarhei”. Di dalam sejarah perkem­bangan filsafat, paham kefilsafatannya dikenal dengan “filsafat menjadi” (to become).

ZAMAN KONTEMPORER (Abad Ke-20 dan Seterusnya)

BIDANG ilmu yang mempelajari manusia mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi spesialisasi yang semakin tajam. Ilmuwan kantemporer mengetahui hal yang sedikit, tetapi secara rnendalam. Ilmu kedokteran semakin menajam dalam spesialis dan subspesialis atau super-spesialis, demikian pula bidang ilmu lain. Di samping kecenderungan ke arah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainya, sehingga dihadirkannya bidang ilmu baru seperti bio-teknologi yang dikenal dengan teknolagi kloning.

studiku

About these ads
  1. […] Sekilas Tentang Filsafat Manusia (Human-philosophy) […]

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: