studiku

Sejarah Filsafat, Para Filsof alam (The history of philosophy, Pre-Socratic Phylosoper)

In Artikel on September 15, 2008 at 7:50 pm

studiku

Para filosof Yunani paling awal kadang-kadang disebut filosof alam sebab menaruh perhatian pada alam dan pro­ses-prosesnya dengan bertanya dari mana datangnya segala sesuatu? Bagaimana alam selalu berubah dan perubahan dapat ter­jadi? Bagaimana zat berubah menjadi benda hi­dup? Banyak orang membayangkan bahwa pada suatu waktu sesuatu pasti muncul dari ketiadaan, gagasan ini tersebar luas di kalangan orang-orang Yunani. Di sisi lain bahwa “sesuatu” itu selalu ada.

 

Para filosof paling awal sama-sama percaya bahwa pasti ada suatu zat dasar di akar seluruh perubahan. Pan­dangan itu lambat laun berkembang, pasti ada suatu zat dasar yang merupakan penyebab tersembunyi dari semua perubahan di alam. Pasti ada “sesuatu” berasal dari segala sesuatu akan kembali.

 

Bagian yang paling menarik sesungguhnya bukan solusi-solusi apa yang berhasil dicapai para filosof saat itu, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan dan jenis jawaban apa yang mereka cari dan bagai­mana mereka berpikir apa yang sebenarnya mereka pikir­kan.

 

Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan perubahan yang dapat diamati, mencari hukum-hukum alam yang mendasarinya, memahami apa yang tengah terjadi tanpa harus kembali pada mitos-mitos kuno (seperti menjelaskan guntur dan halilintar tercipta oleh dongeng mengenai dewa-dewa).

 

Maka filsafat alam lambat laun mengambil langkah pertama menuju penalaran ilmiah dan menjadi pendahulu dari apa yang dinamakan sains, masalah mendasar tentang dasar perubahan-perubahan di alam.

Tiga Filosof Miletus (Thales, Anaximander, Anaximenes)

 

Filosof pertama yang kita kenal adalah Thales (kira-kira 585 SM), yang berasal dari Miletus (sebuah koloni Yunani terletak di perairan Turki) dan suka berkelana termasuk ke piramid Mesir. Thales beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu adalah air dan seluruh kehidupan kembali ke air lagi ketika sudah berakhir. Besar kemungkinan bahwa Thales memikirkan tentang cara air berubah menjadi es atau uap dan kemudian berubah menjadi air kembali.

 

Filosof berikutnya adalah Anaximander, yang juga hidup di Miletus pada masa yang kira-kira sama dengan masa hidup Thales. Dia beranggapan bahwa dunia hanyalah salah satu dari banyak sekali dunia yang muncul dan sirna yang disebutnya sebagai yang tak terbatas. Tidak begitu mudah untuk menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan yang tak terbatas. Barangkali yang dimaksudkan bahwa zat yang merupakan sumber segala benda pastilah sesuatu yang berbeda dari benda-benda yang diciptakannya. Karena semua benda ciptaan itu terbatas, maka sesuatu yang muncul sebelum dan sesudah benda­-benda tersebut pastilah “tak terbatas”. Jelas bahwa zat dasar itu tidak mungkin sesuatu yang sangat biasa seperti air.

 

Filosof ketiga adalah Anaximenes (kira-kira 570­-526 SM). Dia beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu pasti­lah “udara” atau “uap.” Air adalah udara yang dipadatkan. Dia juga beranggapan bahwa api adalah udara yang dijernih­kan. Menurut Anaximenes, udara karenanya adalah asal-usul tanah, air, dan api. Tanah, udara, dan api se­muanya dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan, namun sumber dari segala sesuatu adalah udara atau uap.

 

Ketiga filosof Miletus ini semuanya percaya pada keberadaan satu zat dasar sebagai sumber dari segala hal.

Parmenides (540-480 SM)

 

Sejak sekitar 500 SM, ada sekelompok filosof di koloni Yunani Elea di Italia Selatan. “Orang-orang Elea” ini tertarik pada masalah perubahan

 

Parme­nides beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada pasti telah selalu ada, gagasan ini tidak asing bagi orang-orang Yunani. Sudah selayaknya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini abadi. Tidak ada sesuatu yang dapat muncul dari ketiadaan dan tidak ada sesuatu pun yang ada dapat menjadi tiada.

 

Parmenides ber­anggapan bahwa tidak ada yang disebut perubahan aktual, tidak ada yang dapat menjadi sesuatu yang berbeda dari yang sebelum­nya. Namun disadari bahwa alam selalu berubah te­rus-menerus. Hal ini dirasakan oleh panca indera bahwa segala sesuatu berubah, sesuatu yang tidak dapat disamakan dengan apa yang disebut dengan akal.

 

Parmenides tidak mempercayai segala sesua­tu sekalipun dengan panca indra karena memberikan gambaran yang tidak tepat tentang dunia, suatu gambaran yang tidak sesuai dengan akal. Ini kemudian yang disebut sebagai bentuk ilusi perseptual.

 

Keyakinan yang tak tergoyahkan pada akal manusia dina­makan rasionalisme. Rasionalis adalah seseorang yang percaya bahwa akal manusia merupakan sumber utama pengetahuan kita tentang dunia.

Heraclitus (540-480 SM)

 

Rekan sezaman Parmenides adalah Heraclitus, yang berasal dari Ephesus. Dia beranggapan bah­wa perubahan terus-menerus dan mengalir yang merupa­kan ciri alam paling mendasar. Segala sesuatu mengalami perubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tidak ada yang menetap. Jika kita pergi ke suatu tempat untuk kedua kalinya pasti akan ditemui situasi dan kondisi yang berbeda.

 

Heraclitus mengemukakan bahwa dunia itu dicirikan dengan adanya kebalikan. Tidak dapat mengatahui rasa manis karena tidak tahu seperti apa rasanya pahit. Baik dan buruk mempunyai tempat sendiri-­sendiri dalam tatanan dari segala sesuatu. Tanpa saling-pengaruh antara dua hal yang berkebalikan itu maka dunia tidak akan pernah ada.

 

Bagi Heraclitus, Tuhan ataupun Dewa ­adalah sesuatu yang mencakup seluruh dunia dan dapat dilihat paling jelas dalam perubahan dan pertentangan alam yang terjadi terus-menerus. Hal ini dapat diurai oleh apa yang disebutnya sebagai logos, yang berarti akal. Semacam “akal universal” yang menuntun segala sesuatu yang terjadi di alam. “Akal universal” atau “hukum universal” ini adalah sesuatu yang ada dalam diri setiap manusia dan menjadi penuntun setiap orang. Namun kebanyakan manusia hidup dengan akal masing-masing. Heraclitus memiliki sifat suka meren­dahkan rekan-rekannya bahwa “Pendapat dari kebanyak­an orang adalah seperti mainan bayi”.

 

Di tengah segala perubahan dan pertentangan yang te­rus-menerus terjadi di alam ini memunculkan satu En­titas atau ke-satu-an, yaitu sumber dari segala sesuatu, dinamakannya Tuhan.

 

Parmenides dan Heraclitus saling bertentangan pada dua. Parmenides menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat berubah, dan bahwa pancaindera karenanya tidak dapat diper­caya. Heraclitus, sebaliknya, mengemukakan bahwa segala sesuatu berubah dan bahwa panca indera dapat dipercaya.

Empedocles (490-430 SM)

 

Empedocles berpendapat bahwa debat antara Parmenindes dan Heraclitus disebabkan penyebab karena memang ada kesenjangan antara apa yang dikemukakan akal dengan panca indera tidak akan dapat disatukan jika didasarkan pada satu sudt pandang.

 

Kemampuan akal memang penting, namun di sisi lain dibutuhkan bukti dari indra-indra. Empedocles yakin bahwa setelah dipertimbangkan, alam itu terdiri atas empat unsur yaitu tanah, udara, api, dan air. Semua proses alam disebabkan oleh menyatu dan terpisahnya keempat unsur ini. Semua benda merupakan campuran dari tanah, udara, api, dan air, yang membedakan adalah proporsinya. Pada dasarnya, tidak ada yang berubah. Yang terjadi adalah bahwa keempat unsur itu membentuk berbagai formula dengan proporsi yang berbeda-beda.

 

Para filosof lain sebelum dia telah berusaha untuk menunjukkan bahwa zat primordial itu pasti­lah air, udara, atau api. Thales dan Anaximenes mengemukakan bahwa air dan udara merupakan unsur-unsur penting dalam dunia fisik. Orang-orang Yunani percaya bahwa api juga penting, misalnya pentingnya matahari bagi segala yang hidup, dan binatang maupun manu­sia mempunyai panas tubuh.

 

Setelah Empedocles menjelaskan perubahan alam sebagai bersatu dan berpisahnya keempat “akar,” masih ada lagi yang harus dijelaskan. Apa yang membuat unsur-unsur ini menyatu sehingga tercipta kehidupan baru, yang sekarang oleh para ilmuwan dibedakan antara unsur dan kekuatan alam. Sains modern berpendapat bahwa semua proses alam dapat dijelaskan sebagai interaksi antara unsur-unsur yang berbeda dan kekuatan-kekuatan alam yang beragam.

 

Empedocles percaya bahwa penginderaan mata terdiri atas tanah, udara, api, dan air, sebagaimana segala sesuatu di alam. Maka “tanah” di ma­taku melihat apa yang berunsur tanah di sekeliling mataku, begitu pula dengan “udara”, “api”, dan “air”. Jika mataku tidak mengan­dung salah satu dari keempat zat itu, aku tidak akan dapat melihat seluruh alam.

Anaxagoras (500-428 SM)

 

Anaxagoras berpendapat bahwa alam diciptakan dari partikel­-partikel sangat kecil yang tak dapat dilihat mata dan jumlahnya tak terhingga dengan bagian-­bagian yang jauh lebih kecil lagi, dan masih dapat dipecah ke dalam bagian yang paling kecil lagi.

 

Sedikit banyak, tubuh manusia tercipta dengan cara yang sama, setiap sel tubuh manusia membawa ce­tak-biru dari cara tersusunnya sel-sel lain. Maka ada “sesuatu dari segala sesuatu” dalam setiap sel. Keseluruhan itu ada dalam ma­sing-masing bagiannya yang sangat kecil. Anaxagoras menyebut ini partikel-partikel amat kecil yang memiliki sesuatu dari segala sesuatu dalam benih-benih.

 

Anaxagoras juga menarik karena dia adalah filosof pertama ke Athena. Di kemudian hari dia di­tuduh ateis dan diusir dari Athena, karena mengatakan bahwa matahari bukanlah dewa melainkan sebuah batu merah-panas, yang sangat besar.

 

Anaxagoras beranggapan bahwa seluruh benda angkasa terbuat dari zat yang sama dengan Bumi ataupun meteorit. Ini memberi gagasan bahwa mungkin ada kehidupan manusia di planet-planet lain. Dia juga menge­mukakan bahwa Bulan tidak mempunyai cahaya sendiri karena berasal dari Matahari). Dia juga menjelaskan tentang gerhana matahari.

studiku

About these ads
  1. [...] Sejarah Filsafat, Para Filsof alam (The history of philosophy, Pre-Socratic Phylosoper) [...]

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: