studiku

Tinjauan mengenai Indera Keenam (The analysis about the phenomenon of the sixth sense)

In Artikel on September 11, 2008 at 3:31 am

studiku

Descartes menyatakan kalimat yang sangat terkenal yaitu:  je pense donc je suis” atau “cogito ergo sum”, pernyataan yang padat bahwa aktivitas berfikir manusia menjadi bukti bahwa manusia itu kongkrit atau ada/eksis (Hardiman, 2004:38). Jika aktivitas manusia sebagai penentu eksistensi suatu hal maka tidak berlebihan jika kita memberikan pernyataan bahwa: “aku berfikir tentang Tuhan atau surga, maka Tuhan atau surga itu ada”. Meskipun pernyataan tersebut bila dibalik menjadi “aku tidak berfikir tentang Tuhan”, maka bukan berarti Tuhan juga tidak ada. Manusia tidak berfikir tentang Tuhan, tetapi secara tidak sadar manusia telah menciptakan keberadaan minimal “konsep tentang Tuhan” itu sendiri, suatu anti-tesis dari empirisme Descartes.

Di zaman yang serba modern dengan teknologi serba canggih, seperti sekarang ini, seringkali manusia mengalami fenomena-fenomena yang jika dipikirkan secara logika adalah tidak masuk akal atau bahkan terkesan ganjil, seperti adanya kemampuan psikokinetik, telepati, melihat sesuatu hal yang tidak dapat dilihat oleh manusia lainnya, melihat hal yang terjadi di masa yang akan datang seperti yang dilakukan oleh Notradamus dan Jayabaya, bahkan hal-hal lainnya, yang seringkali dianggap aneh, ajaib, aroma supranatural dianggap mistis oleh sebagian besar manusia karena memang sulit untuk menjelaskannya (reasioning).

Bertahun-tahun lamanya para ahli maupun masyarakat umum berdebat tentang keberadaan indera keenam. Tahun 1960-an pada era perang dingin, banyak ilmuwan dan peminat mencoba mengungkap secara sistematis dalam koridor science mengenai fenomena ini yang seringkali dianggap di luar batas kemampuan normal manusia. Di sisi lain fenomena tersebut dianggap wajar, lumrah, serta biasa oleh sebagian kelompok tertentu, yakni mengenai indera keenam dan sering disebut sebagai Extra Sensory Perception (ESP).

Sulit untuk menjelaskan secara akal proses aktivitas indera keenam yang bagi sebagian banyak ilmuan dimasukkan pada tingkatan common sense yaitu pemahaman bersifat praktis dan didasarkan pada pandangan umum seperti legenda yang berkaitan dengan tradisi, ataupun mukjizat yang ditunjuk oleh kitab suci sebagai aktivitas budaya atau keagamaan. Perbedaan comman sense dengan ilmu terletak dalam penjelasan yang berlainan mengenai fenomen yang teramati. Ilmuwan harus berusaha menjelaskan hubungan-hubungan antara fenomen-fenomen secara hati-hati dan menghindari penjelasan “metafisik” seperti manusia lapar karena Tuhan menghendakinya.

Riset-riset mengenai Extra Sensory Perception dipelajari secara mendalam dari berbagai bidang yaitu psikologi, biologi, maupun fisika. Di negara-negara Eropa Timur Extra Sensory Perception lebih dimasukkan dalam bidang ilmu pasti seperti biologi dan fisika, sedangkan di negara-negara Eropa Barat memasukkan ke dalam bidang ilmu psikologi, yang pada akhirnya memunculkan satu disiplin (aliran) yang disebut dengan parapsikologi.

Para ahli Uni Soviet meneliti telekinese, telepati, aura manusia, melihat tanpa mata dan lain-lain, pada tahun 1967 berdasarkan eksperimen tentang telepati yang menggelombang dalam bentuk kode dari Moskow ke Leningrad, sedangkan otak pikiran penerima didengarkan dengan suatu alat yang halus sekali. Ahli-ahli Rusia mengatakan, bahwa mereka dengan bantuan mesin-mesin mampu mengembalikan tulisan kode tersebut dalam tulisan biasa. Mereka mengatakan mampu mengalihkan kata-kata secara telepati dari pikiran orang yang satu ke pikiran orang yang lain dalam jarak ratusan kilometer. Digambarkan bahwa terdapat nyala aliran listrik, terkadang biru yang jingga (oranye), ada kilat-kilat bergelombang besar berwarna ungu yang menyala (Kartoatmodjo. 1995:28).

Pemerintah Uni Sovyet menyediakan anggaran yang cukup banyak, pada tahun 1967 melebihi 12 juta rubel per tahun riset parapsikologi. Di Rusia, parapsikologi dipandang sebagai bidang ilmu alam karena berhubungan dengan bionika, fisiologi, dan biologi, dengan menyebut bio-informasi, bio-telekomunikasi, bio-cybernetice pada penggunaan secara praktis untuk teknologi. Sedangkan di Amerika Serikat riset Extra Sensory Perception timbul dari metoda yang fundamental untuk menetapkan dengan pasti secara statistik bahwa indera keenam itu memang ada. Pendorong yang kuat riset parapsikologi adalah mencari jawaban tentang masalah hidup dan mati, atau tentang falsafah agama.

Berbagai pertanyaan awal yang melandasi penyelidikan tentang konsep Extra Sensory Perception tersebut antara lain, “Apa konsep yang dapat menjelaskan keberadaan (eksistensi) indera keenam?”, “Bagaimana mekanisme indera keenam dalam aktivitas manusia?”, “Manfaat apa yang mungkin dapat diambil dengan adanya (eksistensi) indera keenam tersebut?”, serta masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang mungkin muncul.

Jika manusia berfikir tentang keberadaan indera keenam, maka secara tidak disadari manusia telah mengenal ataupun (minimal) mengakui adanya konsepsi tentang adanya indera keenam tersebut. Locke menyatakan, idea-idea abstrak tentang ruang, waktu, ataupun bilangan merupakan hasil penyusunan idea-idea simpleks yang terpisah-pisah menjadi idea kompleks. Proses internal dalam menggabungkan idea-idea simpleks ini disebut Locke sebagai “abstraksi” menjadi idea kompleks yang ber­sifat universal. Jika yang dimaksud dengan idea adalah pengalaman-pengalam­an dan juga pengertian-pengertian, maka yang dimaksud dengan kualitas adalah kekuatan-kekuatan pada objek untuk menghasilkan idea-idea dalam diri individu.

Dua macam kualitas yaitu kualitas primer dan kualitas sekunder. Kualitas pri­mer merupakan sebuah objek yang tidak berubah dan tidak dapat dipisahkan dari objek (melekat pada objek tersebut). Idea-idea simpleks dihasilkan oleh kualitas primer ini, misalnya, keluasan, gerak, ataupun massa. Jika kualitas primer inheren dalam objek, kualitas sekunder adalah daya-daya yang mempengaruhi subjek (merupakan kenyataan subjektif dan tidak ada pada objek), sehingga akan berubah-ubah menurut persepsi subjek, misalnya, idea manis, idea nikmat, ataupun idea merah, dihasilkan oleh kualitas sekunder objek. De­ngan konsep kualitas primer, ditegaskan adanya dunia objektif atau kebenaran dalam objek. Dengan kualitas sekunder, dijelaskan bahwa objek juga dapat menghasilkan macam-macam penginderaan dalam diri subjek.

Berbagai ahli mencoba menjelaskan pengertian tentang indera keenam sebagai pengamatan di luar panca indera secara kongkrit. Dikatakan pula gejala-gejala yang subjektif, mental, dan intelektual. Dalam hal ini terjadi perubahan isi kesadaran lewat jalan paranormal. Salah satu konsep dari teori psikoanalisa menjelaskan bahwa aktivitas psikis manusia adalah suatu proses dari mekanisme instink-instink terhadap realitas dan objek-objek. Aktivitas kesadaran manusia dibagi menjadi dua aktivitas yaitu alam sadar dan alam tidak sadar. Freud berpendapat bahwa alam bawah sadar adalah sumber dari motivasi dan dorongan yang ada dalam diri, apakah itu hasrat yang sederhana seperti makanan atau seks, daya neurotik, atau motif yang mendorong seorang seniman atau ilmuwan berkarya. Namun karena represi, mendorong motif-motif itu disadari dalam wujud samar-samar (intuitif).

Alam sadar (conscious mind) adalah apa yang disadari pada saat-saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan, pemikiran fantasi, perasaan yang individu miliki. Terkait erat dengan alam sadar ini dinamakan dengan alam pra-sadar, “kenangan yang sudah tersedia” (available memory), yaitu segala sesuatu yang mudah dipanggil ke alam sadar. Tidak ada masalah yang muncul dari dua lapisan ini. Namun keduanya adalah bagian terkecil dari pikiran, adapun bagian terbesar adalah alam bawah sadar (unconscious mind), bagian ini mencakup segala sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam sadar, termasuk segala sesuatu yang memang asalnya alam bawah sadar, seperti nafsu dan insting serta segala sesuatu yang masuk ke situ karena manusia tidak mampu menjangkaunya seperti kenangan trauma.

Indera keenam adalah konsep abstrak yang tidak berwujud fisik (material), suatu atribut dari aktivitas psikis manusia di luar panca indera yang ada. Extra sensory perception merupakan proses dari persepsi yang dilakukan terhadap stimulus bukan dari pendengaran, penglihatan, pengecap, penghidu, dan perabaan, sebagai contoh eksistensi “mood” atau “suasana hati”, individu dapat menyimpulkan bahwa dirinya sedang dalam kondisi sedih atau senang. Ada suatu interprestasi hasil dari aktivitas persepsi individu terhadap kondisi psikis dirinya sendiri, suatu penginderaan secara psikis tanpa membutuhkan stimulus objek-objek yang ditangkap melalui panca indera.

 

Beberapa kalangan menjelaskan bahwa extra sensory perception diproduksi (makrofag) dari sel-sel yang ada di jaringan, jaringan limfa, sumsum tulang, serta saraf tepi. Organ tubuh yang bekerja untuk extra sensory perception, mengirim dan menerima kesan-kesan lewat bawah sadar manusia. Beberapa teori lain melibatkan diskusi mengenai bawah sadar, keadaan sadar, jiwa, subliminalself (pribadi luhur dari diri manusia), ego transenden, mimpi, dan beberapa istilah lain yang sulit dijelaskan. Argumennya berdasar pada hipotesis atas keberadaan dua realitas, fisik dan mental, maka Extra Sensory Perception dapat terjadi saat dua realitas ini terintegrasi. Extra Sensory Perception terjadi hanya saat dinding pemisah antara dua realitas ini pecah, kemudian gelombang di bawah sadar akan memasuki pikiran sadar.

 

Mimpi merupakan sarana efisien untuk menyampaikan pesan Extra Sensory Perception karena batas atau dinding di sekitar pikiran sadar menjadi sangat tipis. Ternyata ditemukan juga bahwa Extra Sensory Perception pada seseorang cenderung mengalami distorsi akibat prasangka, pikiran, dan kondisi-kondisi lain yang belum bisa dijelaskan, seperti dalam keadaan krisis, kecelakaan, dan kematian seseorang yang dicintai, pesan-pesan Extra Sensory Perception akan berjalan secara spontan. Teorinya menyebutkan bahwa trauma dan pengalaman yang mengejutkan membuat informasi mampu menembus dinding pemisah antara bawah sadar dan kesadaran normal dengan lebih mudah. Ada beberapa pendapat bahwa seseorang memiliki kemampuan Extra Sensory Perception, karena warisan dari keluarga atau nenek moyangnya. Pendapat lain menjelaskan bahwa penomena ini adalah bentuk sense purba yang lama-lama menghilang seiring dengan meningkatnya peradaban. Pendapat lain lagi menyebut, Extra Sensory Perception sebagai supersense yang berevolusi dalam sistem saraf.

 

Ahli parapsikologi AS, J.B. Rhine, menggunakan istilah general extrasensory perception (GESP) dan memasukkan unsur telepati dan clairvoyance dengan satu sebutan. Kemudian ilmu psikologi hanya menyebut sebagai Extra Sensory Perception. Louisa E. Rhine (istri J.B. Rhine) menyatakan bahwa Extra Sensory Perception bekerja pada tingkat unconscious (tidak sadar) atau subconsciousness (bawah sadar), tempat memori berada. Di sinilah kontak antara dunia objektif dengan pusat pikiran berlangsung. Seseorang tidak menyadari kontak ini sampai kemudian informasi dibawa ke tingkat kesadaran normal (consciousness).

Studiku

 

Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern Dari Machiavelli sampai Nietzche. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

Fred N. Kerlinger. 1993. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

George Boeree. 2005. Sejarah Psikologi Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern. Penerbit Primasophie. Yogyakarta.

George Boeree. 2007. Personality Theories. Penerbit Prismasophie. Yogyakarta.

Soesanto Kartoatmodjo. 1995. Parapsikologi Paragnosi, Parergi, dan Data Paranormal. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

studiku

About these ads
  1. [...] Tinjauan mengenai Indera Keenam (The analysis about the phenomenon of the sixth sense) [...]

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: